Tentang “Roso”

Beberapa saat yang lalu pak Prasetya M. Brata menulis di statusnya di Faceboook tentang cinta. Let me quote ya….

Kenapa kamu cinta aku? | Gatau. Kalau aku bisa nyebut alasannya, berarti jangan2 yang kucintai bukan kamu, tapi alasan tentang kamu…

Membaca itu kemudian saya teringat percakapan jauuuuh beberapa tahun lalu dengan mamah saya. Saat itu umur saya awal 20. Mamah saya bertanya, kenapa saya pacaran dengan pacar saya saat itu. Saya klakep, ga bisa jawab.

Hmm, kenapa ya mah? Ya memang dia pinter sih, tapi…. Lucu, baik…. *tapi saya tetap gagal menjawab pertanyaan mamah saya*

Mamah saya tetap diam dan memperhatikan wajah saya, seolah menunggu akhir dari kalimat saya. “Tapi?” kata mamah.

“Tapi bukan itu mah, alasannya aku pacaran sama dia.” Kata saya.

“Yah, kalau gitu kamu tak dukung. Berarti itu karena roso. Eman. Cinta. Karena orang bisa pinter, lucu, baik, segala macam, tapi kalau kamu gak eman, ya gak pengaruh. Roso itu penting Fan”

#Demikian kata mamah saya. Haaaaa, yang kenal saya di awal 20an, gak usah sibuk mbayangin siapa ini yang diomongin, ok? Ora usah iyik. Hihihi.

Terus terang saya kaget mamah memahami kesulitan saya mengungkapkan alasan. Mamah bukan orang yang ekspresif urusan cinta. Papah bilang kangen aja, mamah langsung blingsatan salah tingkah gak karuan, bisa-bisa endingnya marah karena super salah tingkah. Setahu saya, bahkan sampai papah meninggal di tahun 2012 pun, mamah gak pernah bilang cinta sama papah. Tapi keterangan mamah soal “roso” memang benar.

Kadang kita sibuk mencari alasan kenapa kita jatuh cinta sama seseorang. Padahal alasannya ya sudah jelas, ya kita cinta aja sama dia.  Love me for a reason, let the reason be love. *singing lagu jadul*

Dalam banyak hal, sepertinya nasehat mamah juga bisa diterapkan. “Roso” harus diutamakan. Boleh aja sih jago ilmu hukum, tahu segala macam soal hak dan kewajiban, tanpa “roso”, jadilah pengacara jadi-jadian yang hobinya ngajak debat orang. Boleh jadi insinyur jagoan, diakui secara internasional, gelar dari luar negeri, tanpa “roso”, jadilah ilmuwan menara gading, terpisah dari esensi ilmu yang tujuannya memecahkan masalah, masalah sendirinya jadi sumber masalah.

Mamah saya memang jarang salah. Walaupun kadang kebenarannya baru terbukti puluhan tahun kemudian. Itu gak perlu gelar. Gak perlu sertifikasi. Cuman perlu “roso”, Insting yang tulus dari seorang ibu, seorang manusia; yang sekarang jaraaaaang sekali saya temukan dari orang lain.

Nah, itu dia mamah saya. Gaul kan? Itu foto mamah di Dubai, di pinggir pantai tempat lihat Burj Al Arab. Mohon doa yaaaa supaya panjang umur, sehat, barokah usianya.

Eh soal Pak Prasetya M. Brata, beliau salah satu idola saya memang. Makanya saya kepo sekali sama beliau, bahkan statusnya aja saya jadikan bahan tulisan. Ini kali kedua beliau menginspirasi tulisan saya, yang kali pertama boleh cek di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s